Hari-hari ini, banyak orang beribadah, berdoa, dan berusaha berpegang pada Tuhan, tetapi di dalam hati mereka menyimpan keraguan.
Apakah Tuhan benar-benar peduli dan sanggup menolongku?
Krisis iman seperti ini ternyata bukan fenomena baru. Seorang murid Yesus sendiri pernah mengalaminya. Ia adalah Thomas, rasul yang sering diberi label sebagai “si peragu.”
Namun, ketika kita melihat Thomas dengan lebih dekat, kisah hidupnya justru memperlihatkan sisi yang sangat mausiawi dan relevan dengan kita semua hari ini.
Thomas, Logis, Realistis dan Rasional
Jika membaca Yohanes 11:16, kita akan menemukan Thomas sebagai sosok yang berani dan setia. Ketika Yesus ingin kembali ke Yudea, daerah yang pernah mengancam nyawa-Nya, para murid lain ragu. Tetapi Thomas berkata, “Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia.”
Ini bukan kata-kata orang yang lemah iman. Thomas adalah pribadi yang realistis, logis, dan ingin memastikan segala sesuatu secara konkret. Ia ingin bukti, bukan karena keras kepala, tetapi karena ia ingin percaya dengan sepenuh hati.
Namun justru tipe pribadi seperti inilah yang paling mudah terguncang ketika harapan yang dipegangnya terlihat runtuh.
Saat Yesus Disalib, Dunia Thomas Runtuh dan Alami Krisis Iman
Penyaliban Yesus bukan hanya tragedi bagi dunia, itu adalah luka paling dalam bagi Thomas. Seseorang yang ia percayai sebagai Mesias mati di hadapan matanya. Pengharapan yang ia bangun selama bertahun-tahun hancur seketika.
Tidak heran jika setelah itu Thomas mengalami krisis iman. Yohanes 20:24 mencatat bahwa ketika Yesus bangkit dan menampakkan diri kepada murid-murid, Thomas tidak ada bersama mereka. Hal itu mencerminkan kondisi batin Thomas yang merasa kecewa, patah hati, dan kehilangan arah.
Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: "Kami telah melihat Tuhan!" Tetapi Tomas berkata kepada mereka: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya." (Yohanes 20:25)
Perkataan Thomas menunjukkan jaritan hatinya terluka ketika kehilangan arah, kehilangan harapan, hingga kehilangan semangat rohani, bukan keraguan intelektual.
Menariknya, banyak orang di zaman sekarang hidup seperti Thomas. Menghadapi kehilangan, sakit, atau doa yang tak kunjung dijawab, sehingga iman mulai pudar dan muncul pertanyaan-pertanyaan dalam diri yang meragukan Tuhan.
Dimana Tuhan?
Mengapa hal buruk ini terjadi?
Kekosongan rohani seperti ini seringkali membawa manusia mencari pelarian lewat hal-hal duniawi. Sayangnya, manusia tetap merasa hampa.
Yesus Tidak Menjauh dari Orang yang Sedang Hancur
Yang terjadi selanjutnya adalah salah satu momen paling lembut dalam seluruh Injil. Delapan hari kemudian, Yesus datang sekali lagi dan kali ini Thomas hadir. Yesus tidak menegur Thomas dengan kemarahan, melainkan mendatanginya secara pribadi. Yesus tahu Thomas sangat terluka hatinya.
Kata Yesus, “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.” (Yohanes 20:27)
Yesus tidak hanya meneguhkan iman Thomas, Ia menyembuhkan luka batinnya. Ia memperlihatkan bahwa keraguan bukan alasan bagi-Nya untuk menjauh. Justru dalam keraguan itulah, Ia datang paling dekat.
Reaksi Thomas pun luar biasa, “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yohanes 20:28)
Seketika keraguan Thomas berubah menjadi pengakuan iman paling kuat dalam seluruh Injil. Dari hati yang rapuh, lahir iman sejati.
Krisis Iman Bukan Akhir Perjalanan Spiritual
Kisah Thomas mengingatkan kita bahwa krisis iman bukanlah akhir perjalanan spiritual kita. Tetapi dalam kebingungan kita yang kehilangan arah, Tuhan sedang mempersiapkan perjumpaan pribadi dengan kita.
Setelah perjumpaan itu, sejarah mencatat bahwa Thomas menjadi saksi Kristus yang luar biasa. Ia pergi jauh ke India dan melayani sampai akhir hidupnya sebagai martir. Orang yang dulu tenggelam dalam keraguan justru menjadi salah satu pembawa kabar baik paling berani.
Jika hari ini Anda tengah mengalami krisis iman, ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah menjauh dari Anda. Tuhan mendekat, memahami air mata dan pergumulan Anda.
Apabila Anda membutuhkan teman untuk berjalan bersama dalam doa, Anda bisa menghubungi Layanan Doa CBN melalui WhatsApp di nomor 0821-1500-2424 atau klik banner di bawah artikel ini.
Tim doa kami siap mendengarkan, mendoakan, dan menolong Anda menemukan kembali pengharapan.
Sumber : YouTube Jawaban Channel