Saat berbicara tentang anak, pernahkah Anda merenungkan siapa sebenarnya “anak” bagi Anda?
Sebagian dari kita mungkin spontan berkata, “Anak itu tidak tahu apa-apa,” “Anak itu merepotkan,” “Anak itu sumber masalah,” atau bahkan dengan kesal menyebut, “Anak itu beban, apalagi kalau mereka sedang rewel atau nakal.”
Jika pandangan seperti ini terus dianggap wajar, maka anak secara tidak sadar telah mengalami diskriminasi terhadap hak-haknya. Inilah isu penting yang kembali disuarakan pada peringatan Hari Anak Sedunia yang kita rayakan hari ini.
Melalui UNICEF—lembaga perlindungan anak di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)—Hari Anak Sedunia 2025 mengusung tema “My Day, My Rights” atau “Hariku, Hakku.” Tema ini menegaskan tiga fokus utama:
“Saatnya mendengarkan anak-anak. Untuk memahami seperti apa kehidupan mereka dan bagaimana hak-hak mereka hadir, hilang, atau diupayakan setiap hari,” demikian pesan dari UNICEF.
Saat Anak-Anak Kehilangan Haknya
Di tengah era digital saat ini, kasus yang menyeret kalangan usia anak terus meningkat – anak menjadi target kekerasan fisik dan mental setiap hari baik di rumah maupun luar rumah, penelantaran anak menjadi berita yang sudah sangat sering muncul, dan realita jutaan anak tidak mendapat akses pendidikan yang layak (Sumber data: https://www.tempo.co/politik/kementerian-pendidikan-3-9-juta-anak-tak-bersekolah-1483849)
Kita harus mengakui bahwa secara fisik, setiap anak lemah. Bahkan kapasitas mereka terbatas. Karena di rentang usia ini, hidup mereka bergantung sepenuhnya kepada orang tua- melalui sosok ayah dan ibu. Jika peran ini tidak ada, maka anak hanya bisa berlindung di balik belas kasihan keluarga terdekat – mungkin saudara, bibi, paman, nenek dan kakek. Selebihnya adalah orang asing yang tidak memiliki tanggung jawab terhadap hidup anak. Akibatnya, anak bukan hanya kehilangan akses pendidikan tetapi haknya untuk dilindungi juga hilang.
Baca Juga: Inilah 10 Ayat Alkitab yang Bicara Tentang Anak dan Haknya yang Harus Dipenuhi
Anak di Mata Tuhan
Sehubungan dengan Hari Anak Sedunia yang sedang kita rayakan hari ini, saya mengajak setiap Anda untuk mengambil waktu sejenak dan merenungkan bagaimana seharusnya kita memandang setiap anak dari kaca mata Tuhan.
Sebagai orang percaya, Alkitab menjadi satu-satunya buku panduan yang berisi banyak sekali kebenaran yang akan membuka cakrawala berpikir dan memandang kita. Di dalamnya kita bisa menemukan ada banyak sekali pandangan yang bertolak belakang dengan bagaimana kita memperlakukan setiap anak.
Kitab Matius berisi beberapa bagian penting ketika Yesus berdiri dan menyuarakan hak setiap anak. Pandangan Yesus tentang anak sangat jelas: mereka mulia, berharga, layak diterima, dilindungi, dan menjadi teladan bagi orang dewasa dalam hal iman dan kerendahan hati.
Baca Juga: 2 Tokoh Alkitab Ini Buktikan Bahwa Pemuridan Anak Berpengaruh Besar dalam Hidupnya
Yesus bukan hanya memberkati anak, tetapi meninggikan posisi mereka sebagai pewaris Kerajaan Allah dan cerminan hati Kerajaan tersebut.
BACA DI HALAMAN SELANJUTNYA --->