Setiap tanggal 20 November, dunia memperingati Hari Anak Sedunia, sebuah momen penting untuk mengingatkan kembali tentang nilai setiap anak dan hak-hak yang seharusnya mereka terima.
Tahun ini, UNICEF merilis tema global yang diangkat adalah My Day, My Rights atau yang berarti “Hariku, Hakku,” sebuah ajakan untuk memberi ruang bagi suara anak, memahami kebutuhan mereka, dan menghargai martabat mereka sebagai pribadi yang diciptakan Allah.
BACA JUGA: Tema Hari Anak Sedunia 2025 Lengkap Maknanya, UNICEF Gelar Perayaan Global
Dunia baru mulai memberi perhatian serius terhadap hak anak pada abad ke-20. Dahulu, anak dianggap sebagai milik orangtua atau tenaga kerja tambahan dalam keluarga. Banyak dari mereka bekerja di pabrik, ladang, atau lingkungan berbahaya karena belum ada perlindungan hukum yang melindungi kesejahteraan anak.
Namun, perubahan dimulai ketika Liga Bangsa-Bangsa (LBB) mengadopsi Deklarasi Hak Anak pada tahun 1924, lalu Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan dokumen serupa pada 1959.
UNICEF, berdiri setelah Perang Dunia II memperkuat upaya global melindungi anak-anak dari kekerasan, eksploitasi, diskriminasi, hingga kurangnya akses kesehatan dan pendidikan.
Tema “Hariku, Hakku” mengajak dunia untuk mendengarkan suara anak, bukan hanya melindungi mereka secara pasif, tetapi juga memberi ruang bagi partisipasi mereka.
Namun sebagai orang Kristen, kita perlu bertanya, bagaimana Alkitab memandang hak anak-anak? Dan bagaimana kita menyeimbangkan nilai modern dengan prinsip firman Tuhan?
BACA JUGA: Hari Anak Sedunia Jadi Momen PGI Bangkitkan Kepemimpinan Anak Lewat Kids Take Over 2025
Apa Kata Alkitab Tentang Hak Anak?
Menariknya, Alkitab tidak memberikan daftar “hak anak” secara eksplisit. Namun Alkitab memberi perintah yang sangat jelas kepada orangtua. Efesus 6:4 mengingatkan, “Bapa-bapa, janganlah membangkitkan amarah di dalam hari anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.”
Dalam perintah ini, kita sebenarnya bisa melihat banyak prinsip hak anak, seperti:
Alkitab menempatkan tanggung jawab utama untuk mendidik anak bukan pada negara, tetapi pada orangtua. Ulangan 6:1–2 menegaskan bahwa Tuhan memerintahkan orangtua untuk mengajar anak berjalan dalam kebenaran. Bahkan ketika anak sudah dewasa, Tuhan menegur imam Eli karena membiarkan anak-anaknya berbuat jahat (1 Samuel 3:13).
Artinya, Alkitab menekankan bahwa anak adalah anugerah Tuhan yang dipercayakan kepada orangtua, dan orang tualah yang bertanggung jawab penuh dalam membentuk masa depan mereka.
BACA JUGA: Refleksi Hari Anak Sedunia 2025: Bagaimana Yesus Memandang Setiap Anak?
Hak Anak dengan Prinsip Alkitab
Di beberapa negara, konsep hak anak berkembang hingga membatasi peran orangtua dalam mendidik dan membentuk karakter anak. Contohnya, ada kebijakan yang melarang bentuk disiplin tertentu meski masih wajar, karena dianggap melanggar hak anak untuk “bebas dari tekanan.”
Ada pula aturan yang membatasi pendidikan iman di rumah, sehingga nilai-nilai spiritual tidak lagi dianggap sebagai tanggung jawab utama orangtua.
Di negara-negara Barat tertentu, orangtua bahkan bisa dikenai sanksi jika tidak menyetujui keputusan medis anak remaja, seperti terapi hormon atau perubahan identitas gender, karena hukum memberikan hak memilih kepada anak meski mereka belum cukup dewasa untuk keputusan sebesar itu.
Kondisi-kondisi ekstrem ini menunjukkan bahwa pembahasan hak anak perlu dilakukan dengan hati-hati dan seimbang. Perlindungan anak memang penting, tetapi ketika konsep tersebut berkembang tanpa melibatkan tanggung jawab orangtua, batasan Alkitab tentang keluarga bisa tergeser.
Firman Tuhan menempatkan orangtua sebagai pemegang otoritas utama untuk membimbing, mendisiplinkan dengan kasih, dan memperkenalkan anak kepada nilai-nilai iman.
Jika peran ini digantikan oleh hukum negara atau budaya modern, maka relasi keluarga yang Tuhan rancang bisa melemah, dan anak justru kehilangan fondasi spiritual yang mereka perlukan untuk bertumbuh dewasa.
Alkitab tidak pernah membenarkan kekerasan atau penyalahgunaan terhadap anak. Disiplin, pembentukan karakter, dan bimbingan rohani tetap merupakan tanggung jawab orangtua, bukan sesuatu yang dapat sepenuhnya dialihkan kepada negara atau budaya.
BACA JUGA: 2 Tokoh Alkitab Ini Buktikan Bahwa Pemuridan Anak Berpengaruh Besar dalam Hidupnya
Mazmur 127:3 mengingatkan, “Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari Tuhan.”
Karena itu, prinsip hak anak harus dipahami dengan seimbang, yaitu melindungi anak, tapi tetap menghormati peran orangtua yang telah ditetapkan Tuhan.
Di Hari Anak Sedunia ini, marilah kita berbicara tentang hak anak dengan prinsip yang telah Tuhan tetapkan. Anak membutuhkan perlindungan, kasih, disiplin, pendidikan iman, dan orangtua yang hadir dengan hati yang takut akan Tuhan.
Kiranya tema Hari Anak Sedunia 2025 “Hariku, Hakku” bisa menjadi pengingat bahwa suara anak penting, tetapi firman Tuhan tetap menjadi kompas utama dalam membesarkan mereka.
Sumber : Jawaban.com