Meski memiliki berbagai manfaat, metode water birth juga memiliki sejumlah risiko yang perlu diperhatikan. Beberapa risiko tersebut di antaranya:
Penelitian yang diterbitkan dalam Morbidity and Mortality Weekly Report pada tahun 2017 juga mengungkapkan bahwa bayi yang lahir di dalam air memiliki risiko lebih tinggi terkena infeksi tertentu, seperti penyakit Legionnaires.
Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Legionella yang jika terhirup, dapat menyebabkan demam, batuk, hingga pneumonia.
Siapa yang Cocok Melakukan Water Birth?
Metode water birth umumnya disarankan bagi ibu hamil dengan usia kehamilan antara 37 hingga 42 minggu yang tidak memiliki risiko kehamilan tinggi.
Namun, ACOG tidak merekomendasikan metode ini bagi perempuan dengan persalinan prematur atau mereka yang mengalami gejala seperti infeksi darah, detak janin sulit dipantau, demam di atas 38 derajat celcius, dan riwayat distosia bahu.
Proses water birth yang dipilih oleh Nikita Willy di Los Angeles, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa metode ini semakin populer di kalangan ibu yang menginginkan pengalaman persalinan lebih alami dan nyaman.
Meski begitu, penting bagi calon ibu untuk berkonsultasi dengan dokter dan memastikan kondisi kehamilannya sesuai dengan prosedur ini.
Sumber : Berbagai Sumber
Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”