Anak Juga Merupakan Bagian dari Jemaat Tuhan
Kalangan Sendiri

Anak Juga Merupakan Bagian dari Jemaat Tuhan

Riris Neil Yulinar Pakpahan Contributor
      809

 

Markus 9:37

“Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku.”

 

Bacaan setahun  : Mazmur 143; Yohanes 20; Zakharia 7-8

Sebagai seorang pelayan anak, hati saya selalu merasa teriris ketika mengetahui ada anak yang mengalami siksaan baik secara fisik maupun mental. Pernah suatu ketika saya harus mendampingi seorang anak yang mengalami pelecehan seksual. Dalam kesedihan dan ketidakberdayaannya, saya melihat keputusasaan dibalik tatapan matanya. Keraguannya untuk terus berjalan seakan membuat gairah hidupnya terhenti.

Hingga beberapa tahun kemudian disaat saya melihat bibirnya yang mencoba tersenyum, tingkah lakunya yang mengikuti anak seusianya, saya tetap melihat tatapan kosong di sela-sela pandangannya. Dan traumanya belum benar-benar pulih.

Suatu ketika Yesus menempatkan seorang anak kecil di tengah para murid, saat mereka menanyakan siapakah yang terbesar dalam kerajaan Sorga (Matius 18:1-5). Jika Yesus yang adalah Tuhan saja menempatkan seorang anak kecil di tengah-tengah mereka, itu artinya Yesus menjadikan setiap anak sebagai PUSAT PERHATIAN.

Lalu apa yang harus kita lakukan sebagai jemaat di gereja?

Tanpa sadar seringkali kita sebagai pelayan, bahkan pemimpin gereja menomorduakan kepentingan anak. Ruangan yang nyaman dengan segala fasilitas lengkap bisa disediakan bagi jemaat dewasa. Hal ini berbanding terbalik dengan ruangan sekolah minggu yang seringkali dibuat lebih sempit, beralas karpet kusam, dan tanpa pendingin ruangan. Ditambah lagi sebagai tempat penyimpanan kursi, meja atau inventaris lain yang tidak terpakai. Bahkan lebih tepatnya disebut ‘semi gudang’. Dan parahnya, ruang sekolah minggu seringkali dianggap sebagai tempat penitipan anak.

Pelayanan anak di gereja seringkali dipandang sebagai pelayanan nomor dua. Kebutuhan guru sekolah minggu seringkali diabaikan. Sehingga banyak guru sekolah minggu seakan harus memenuhi kebutuhan sekolah minggunya secara pribadi. Mereka tidak hanya berkorban dari segi waktu, tetapi juga materi.

Haruskah hal ini terus kita lakukan? Jawabnya TIDAK. Jika Yesus begitu serius terhadap anak, mari kita juga melakukan hal yang sama. Hal terkecil yang harus dilakukan sebagai jemaat dan pemimpin gereja adalah dengan men-support semua kebutuhan sekolah minggu. Sebagai orang tua, tanggung jawab sepenuhnya tidak hanya tentang pemenuhan kebutuhan materi, namun juga kebutuhan spiritual anak. Maka tugas dan kewajiban orang tua adalah membawa setiap anak mengenal Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dalam hidupnya melalui sekolah minggu maupun pendidikan di rumah.

 

Ikuti Kami