Silahkan login terlebih dahulu sebelum
memasukkan pertanyaan Anda.

Register Login

Naomii Simbolon

Official Writer
127


Kita semua tau bukan berita yang sedang hot dan beredar sekarang ini, yakni rasisme yang terjadi di Papua dan Surabaya yang bahkan berdampak ricuh. Nggak hanya pemerintah daerah,   bahkan polisi pun turun tangan dalam mengamankan peperangan rasis yang terjadi ini.

Menyikapi hal yang terjadi, seorang tokoh agama Kristen di Papua, yakni Jhon Baransano mengajak agar negara mau memberi keadilan dengan menegakkan hukum positif terkait rasisme.  Dikutip dari Antaranews, John berkata bahwa negara harusnya memberi rasa adil dengan membiarkan pelaku rasis ditangkap  disidang secara terbuka, supaya kesadaran masyarakat Papua terus bertumbuh.

Nggak cuma itu, dia juga menilai kalau negara terkesan lambat sekali dalam menangani masalah ini, sehingga beberapa kota di Papua terjadi ricuh karena amarah masyarakat.

"Rasisme itu ditentnag di seluruh dunia, bahkan kita tahu bersama bahwa negara telah membuat undang-undang tentang rasisme itu, yakno Undang-Undang Nomor 400 tahun 2008 (Penghapusan Diskiriminasi Ras dan Etnis,Red)," kata Jhon.

John juga berharap bahwa seharusnya negara bisa memberikan rasa aman dengan adanya tindakan hukum terhadap mereka yang rasis. Mereka harusnya dijatuhkan hukuman sesuai dengan undang-undang, yakni 7 tahun penjara atau denda sekitar 100  Milliar lebih.

"Ini yang sebenarnya orang Papua minta ada penegakan hukum itu, sebenarnya tidak ada eskalasi konflik yang besar kalau saat itu negara langsung menyelesaikan masalah ini,"ujar john.

John juga berharap presiden Joko Widodo nggak cuma mengatakan kata 'maaf' tapi bergerak dalam menyelesaiaknnya secara hukum, supaya kejadian yanng sama nggak terulang kembali.

Jika negara menyelesaikan masalah ini dengan cepat, kemungkinan eskalasinya nggak meluas.

"Saya nggak melihat persoalannya, tapi melihat gimana rasisme itu terus berkembang secara luar biasa," katanya.

Selain John, Pendeta Gomar Gultom, yang adalah Sekretaris Umum PGI (Persekutuan Gereja-gereja Indonesia)  sebelumnya pernah melontarkan hal yang seirama, dimana dia berharap bahwa pemerintah Indonesia  bisa menyelesaikan permasalahan yang mendasar terkait rasisme di Papua ini.

Dikutip dari Antaranews, Pendeta tersebut sempat melontarkan bahwa persoalan rasisme di Surabaya dan Malang bisa memicu letupan yang buruk, dan ternyata hal itu terjadi dalam unjuk rasa, bakar-bakaran yang terjadi di Papua baru-baru ini.

BACA JUGA :

Wah, Berbeda Dengan Gereja Lain, Gereja Ini Malah Menerima LGBTQ Dengan Terbuka!

"Persoalan yang terjadi di Surabaya dan Malang ini bisa memicu letupan seperti sekarang ini, itu pasti karena ada sesuatu yang terpendam. Jadi pemerintah harusnya bisa menangkap itu, " katanya ketika ditemui Senin kemarin (9/09/2019) di Kantor Pengurus Besar Nadlatul Ulama di Jakarta.

Pendeta Gultom berharap permasalahan bisa diselesaikan dengan membentuk Komisi HAM, pengadilan HAM, dan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi yang berkedudukan di Papua.

Dia juga mengatakan bahwa Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sudah membuat satu peta jalan untuk menyelesaikan pembangunan di Papua, sayangnya pemerintah belum membuka diri untuk hasil penelitian ini. Padahal dari hasil penelitian ini pemerintah bisa menyelesaikan banyak hal seperti masalah HAM, pelurusan sejarah Papua serta mengutamakan dialog sehingga tak ada lagi rasisme di masa mendatang.

Mengenai respon dari presiden Jokowidodo terkait rasisme ini, dia selalu memberitahu agar dilakukannya pendekatan kultural antara masyarakat agar tetap aman, cuma menurut PGI sampai hari ini apa yang dilontarkan presiden tidak sejajar dengan kenyataan yang ada di Papua.

"Presiden Jokowi sudah berkali-kali bilang harus menggunakan pendekatan kultural tetapi kenyataan di lapangan tidak sejajar dengan itu, pendekatan seperti itu akan terus menimbulkan luka bati bagi masyarakat," kata dia.

Semoga masalah itu cepat selesai ya dan kita berdoa agar Pemerintah sigap melakukan cara yang baik untuk mengamankan situasi rasisme di tanah Papua sehingga Indonesia tak lagi ricuh hanya karena rasis. Kita semua kan saudara, lantas kenapa harus berantem atau ricuh hanya masalah suku dan etnis bukan? Tidakkah kita Bhineka Tunggal Ika?

Sumber : berbagai sumber

Share this article :

Setiap Persoalan selalu ada Harapan dan Jawaban. Hubungi kami sekarang !

Dimas Diang 16 September 2019 - 13:44:33

Bagian excelnyang berisi alamat suatu sel

0 Answer

Armin Maulana 15 September 2019 - 18:57:54

Sebuah kapasitor keping sejajar diudara mempunyai .. more..

0 Answer

marsel sihombing 14 September 2019 - 20:37:08

perkataan kotor

0 Answer


Merry Sine 28 August 2019 - 14:42:33
Salom sahabat.. peekenalkan saya merry

The Kicker Ellex 26 August 2019 - 18:40:31
Salam sejahtera para sahabat... Perkenalkan, nama ... more..

Suhidi Yosua 2 August 2019 - 00:01:16
Shalom, Nama saya Suhidi Yosua, 30thn. Saya butuh ... more..

andrew 1 August 2019 - 02:12:17
saya Andrew 21thn saya mau meminta suport dan duku... more..

Banner Mitra September week 3


7271

Banner Mitra September week 3