Silahkan login terlebih dahulu sebelum
memasukkan pertanyaan Anda.

Register Login

Lori Mora

Official Writer
354


Sebuah kata motivasi bilang bahwa ‘kepemimpinan itu adalah pengaruh’. Tapi kata-kata ini gak sepenuhnya benar. Karena seseorang yang memiliki pengaruh stak selamanya menduduki posisi sebagai pemimpin. Seperti kata seorang profesor Harvard, “Hitler memegang kekuasaan, tapi dia bukan seorang pemimpin’. Hitler adalah sosok manusia yang paling buruk.

Sebagai orangtua, kita diingatkan untuk memimpin anak-anak dengan contoh kepemimpinan yang benar.

Nah apa itu pemimpin?

Seorang pemimpin adalah seseorang yang berpengaruh yang mengakui orang lain sederajat. Seorang pemimpin sejati melihat orang lain sebagai pribadi dan menghargai martabatnya. Hitler tidak melakukan hal itu. Dia malah menggunakan pengaruhnya untuk meninggikan diri. Dia lupa untuk melihat dirinya sebagai manusia biasa, sama seperti yang lain. Karena itulah dia gagal mengenali dan menghormati kemanusiaan bukan hanya orang-orang Yahudi, tapi juga orang Jerman yang dibentuknya menjadi para pembunuh. Hitler adalah orang yang sesat karena menolak tunduk pada otoritas kebenaran.

Beda Pemimpin dan Penyesat

Seseorang yang memakai pengaruhnya untuk tujuan kebenaran disebut sebagai pemimpin. Tapi seseorang yang memakai pengaruhnya untuk menjauhkan orang dari kebenaran disebut penyesat.

“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14: 6)

Adalah tugas orangtua untuk membantu anak-anaknya memahami bahwa Tuhan mau mereka tumbuh jadi sosok yang manusiawi dan menghargai sesamanya. Itu adalah karakter Tuhan sendiri.

Semua orangtua pasti mau melihat anak-anaknya menghidupi karakter Yesus, bukan? Yesus sendiri memilih untuk hidup jadi manusia. Dia tak pernah berdosa dan Dia mencontohkan tentang cara hidup yang benar kepada manusia.

Baca Juga : Anak Jadi Pelaku Bully? Orangtua Mesti Tahu Mungkin Hal Ini Jadi Penyebabnya

Salah satu ciri khas dari orang Kristen terletak pada kebenaran yang dipegang teguh bahwa Tuhan sendiri ingin kita jadi manusia. Dia menciptakan kita dalam gambar-Nya, itulah arti menjadi manusia. Ada banyak agama yang keliru mengklaim kalau Tuhan sendiri menuntut mereka untuk mendapatkan keselamatan mereka sendiri.

Salah satu alasan kenapa dosa itu jadi masalah adalah karena hal itu menghalangi seseorang menjadi diri mereka sepenuhnya.

Karena bahaya dosa inilah, semua orangtua perlu melatih anak untuk jadi pribadi yang lebih manusiawi. Menjadi manusiawi berarti menjadi serupa dengan Yesus. Atau dalam bahasa sehari-hari, meniru teladan Yesus. Karena Dia gak berperang pada kemanusiaanNya sendiri. Dia gak marah soal keterbatasan-Nya. Karena Dia adalah Tuhan itu sendiri (Kolose 2: 9).

1. Ajarkan Anak Punya Kerendahan Hati

Yesus punya kerendahan hati sehingga Dia bisa menerima setiap keterbatasan dan ketergantungan-Nya pada Allah.

Sama halnya dengan kita, kemanusiaan kita harusnya mengingatkan kita bahwa kita harus bergantung pada Tuhan.

2. Ingatkan Bahwa Yesus Tidak Didikte Dengan Status atau Barang

Tuhan Yesus digerakkan oleh belas kasih dan kepedulian kepada orang lain. Dia sama sekali tak memikirkan keuntungan untuk diriNya sendiri. Apalagi bicara soal jabatan dan harta.

Saat kita membesarkan anak yang hanya terlihat baik demi mencari pengaruh atau dipandang berkesan oleh orang lain, itu artinya kita sedang membesarkan anak yang angkuh dan punya motivasi. Karena itu penting untuk mengingatkan anak bahwa kita harus bersikap otentik kepada orang lain.

3. Ajarkan anak untuk memiliki kemurahan hati

Menyadari bahwa setiap orang yang kita jumpai adalah Yesus yang menyamar akan mengubah paradigma anak soal orang lain. Anak akan mulai memperlakukan semua orang yang ditemuinya sama seperti dia memperlakukan Yesus.

4. Ajarkan untuk menerima perbedaan

Bagaimana anak-anak belajar untuk memandang orang lain sama akan mendorong mereka menghargai perbedaan. Hal ini akan dihidupi oleh anak saat orangtua lebih dulu memberikan contoh nyata kepada anak. Misalnya, tetap berteman dengan tetangga yang berbeda suku dan agama. Rajin membantu keyakinan lain dalam setiap kegiatan agamanya, dan sebagainya.

“Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai!” (Roma 12: 16)

Karena itu selalu ajarkan anak untuk hidup seperti Yesus hidup. Yesus menghargai semua orang dan menyambutnya dengan kasih.

Sumber : Jawaban.com

Share this article :

Setiap Persoalan selalu ada Harapan dan Jawaban. Hubungi kami sekarang !

Martin 23 September 2019 - 11:15:20

Hutang kartu kredit

0 Answer

vina mukuan 22 September 2019 - 09:05:42

Saya hobby menulis lirik lagu rohani, tapi saya ti.. more..

0 Answer

Galaxy studio moses 21 September 2019 - 19:33:34

Apa dampak dari tersenyum

0 Answer


nafty louise 21 September 2019 - 21:18:28
Selamat malam, nama saya nafty saat ini saya mohon... more..

Merry Sine 28 August 2019 - 14:42:33
Salom sahabat.. peekenalkan saya merry

The Kicker Ellex 26 August 2019 - 18:40:31
Salam sejahtera para sahabat... Perkenalkan, nama ... more..

Suhidi Yosua 2 August 2019 - 00:01:16
Shalom, Nama saya Suhidi Yosua, 30thn. Saya butuh ... more..

Banner Mitra September week 3


7277

Banner Mitra September week 3