Pernah Ingin Bunuh Diri, Raja Renang Olimpiade Kini Jadi Pengkhotbah
Sumber: istimewa

Internasional / 15 August 2016

Kalangan Sendiri

Pernah Ingin Bunuh Diri, Raja Renang Olimpiade Kini Jadi Pengkhotbah

daniel.tanamal Official Writer
7977
Olimpiade Rio 2016 di Brazil menjadi panggung terakhir bagi perenang legendaris Amerika Serikat, Michael Phelps. Di Olimpiade kelima yang diikutinya itu, Phelps meraih lima emas dan satu perak, sekaligus membukukan rekor fantastis sepanjang masa sebagai atlet Olimpiade pengumpul medali terbanyak dengan total raihan 28 medali yang terbagi dari 23 emas, tiga perak dan dua perunggu.

Torehan prestasi prestisius yang sudah tentu mendaulatnya sebagai Raja Renang Olimpiade itu merupakan pencapaian yang bukan tanpa perjuangan dan rintangan. Kelamnya kehidupan dalam diri perenang berusia 31 tahun tersebut, hampir membuat Phelps mencoba untuk mengakhiri hidupnya. “Saya berpikir bahwa dunia akan lebih baik tanpa kehadiran saya. Saya pikir itu (bunuh diri) adalah hal terbaik yang harus dilakukan, mengakhiri hidup saya,” kenang Phelps saat dirinya mengalami krisis identitas, dilansir CBN News, Minggu (14/8/2016).

Masa kelam Phelps, tercatat sejak November 2004, saat usianya masih 19 tahun, pemuda kelahiran Baltimore Maryland yang punya julukan “Flying Fish” itu ditangkap polisi karena berkendara dibawah pengaruh alkohol. Saat itu dirinya diganjar dengan masa percobaan kurungan selama 18 bulan berikut dengan beberapa kewajiban lainnya yang harus dia lakukan. Kejadian besar lainnya yaitu saat Phelps di-skorsing Asosiasi Renang AS pada Februari 2009 karena fotonya sedang menghisap bong. Kejadian itu membuat banyak pihak merasa karier emasnya di Olimpiade akan segera berakhir karena kelakukan buruknya.

Terakhir pada September 2014, Phelps kembali ditangkap polisi karena berkendara dibawah pengaruh alkohol dan melaju melampaui batas kecepatan di tanah kelahirannya. Kejadian terakhir ini membuat Phelps kembali di-skorsing Asosiasi Renang AS untuk seluruh kompetisi selama enam bulan, termasuk tidak bisa membela AS di kompetisi World Aquatics Championship tahun 2015 lalu. Tanpa Phelps, AS gagal untuk lolos di nomor 4 x 100 meter gaya bebas. “Itu adalah akhir dari hidup saya. Berapa kali lagi saya akan membuat kekacauan? Mungkin dunia akan lebih baik tanpa saya,” kata Phelps, mengingat reputasinya yang mulai hancur.

Namun seorang teman Kristianinya, seorang bintang NFL, Ray Lewis memberikan kekuatan melalui kata-kata penyemangat bagi Phelps. Lewis, yang saat itu baru saja bangkit dari masalah hukum yang dihadapainya, mengatakan bahwa Phelps dapat kembali lagi ke jalur kehidupannya semula. “Inilah saat dimana kita harus melawan. Saat dimana karakter kita yang sebenarnya harus bangkit. Jangan padamkan. Saat kamu padamkan itu, kita semua akan kalah,” jelas Lewis kepada Phelps saat itu.

Saat Phelps masuk pada sebuah pusat rehabilitasi psikologi dan traumatika, Oktober 2015, Lewis mengirimkan sebuah buku yang cukup terkenal dan menjadi best seller, Purpose Driven Life, tulisan Pastor Rick Warren. Isi dari buku itulah yang membuat Phelps mendapatkan kembali harapan dan semangatnya. “Ini mengubah saya menjadi lebih percaya bahwa ada kekuatan yang lebih besar daripada diriku sendiri dan ada tujuan bagi saya di dunia ini. Hal ini membantu saya saat saya berada di tempat dimana saya sangat membutuhkan pertolongan,” tambahnya.

Bukan itu saja, Phelps juga memiliki kerinduan yang mendalam terhadap melayani dan membangkitkan kembali setiap pribadi-pribadi yang sangat berprestasi namun mengalami kejatuhan dan sulit untuk bangkit kembali. Phelps membacakan buku tersebut kepada sesama pasien di pusat rehabilitasi itu, dan membuatnya mendapat julukan “Mike si Pengkhotbah”.

Dalam sebuah sesi di NBC Today, Phelps kembali membagikan kesaksiannya, dimana dirinya membuka rahasia mengapa dapat memberikan kemampuan 100 persen di Olimpiade Rio, bahkan Phelps membeberkan mengenai semangatnya di masa depan. “Saya bersukacita untuk membuka halaman ke bab berikutnya. Saya bersemangat untuk keluar dari karir saya di renang dan pergi untuk mengejar apa yang saya inginkan,” tandasnya.

Phelps mendapatkan anugerah keselamatan karena dirinya mau percaya dan mengimani bahwa Tuhan yang Maha Mulia itu sudah menetapkan kepada setiap orang, tugas dan tujuan hidup didunia ini. Dan karena pengenalan yang lebih kepada Tuhan akan membawa setiap pribadi yang terhilang menjadi baru dan lahir kembali, seperti 2 Korintus 5:17 berkata “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru, yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”



Sumber : CBN News - Daniel Tanamal
Halaman :
1

Ikuti Kami