Seorang presiden di sebuah negara diwawancari oleh sejumlah wartawan, perihal keputusannya memilih salah seorang pejabat pemerintah yang kurang dikenal masyarakat sebagai gubernur di ibukota negara. Padahal seorang tokoh nasional terkenal lainnya lebih diunggulkan daripada pejabat pemerintahan itu.
Presiden pun mengutarakan pendapatnya. “Siapa yang tidak kenal dengan tokoh nasional itu? Dirinya begitu terpandang, punya kharisma yang luar biasa. Gaya komunikasinya pun begitu menarik dan sangat santun. Saya tidak menemukan satu kesalahan pun dari dirinya,” begitu ucap presiden menjelaskan mengenai tokoh nasional yang tidak dipilihnya itu.
“Namun saya punya keyakinan yang besar, bagaimana untuk membangun negara ini. Jika kita ingin berubah dan terjadi pembangunan di segala bidang, kita jelas harus bekerja. Harus ada prioritas terhadap apa yang kita rencananakan, dan tentu saja hasil kerja yang signifikan. Sederhananya saya jelas lebih memilih pemimpin dengan hasil kerja, daripada pemimpin dengan citra diri,” jelasnya.
Saat ini dengan berkembang-luasnya media, banyak tokoh dan pemimpin yang menggunakan medium itu untuk menarik perhatian masyarakat dengan mencitrakan dirinya. Namun masyarakat kini justru lebih membutuhkan tindakan kerja yang jelas dan terlihat. Kita pun diajar untuk menjadi pribasi yang berbuah dan menghasilkan, bukan yang hanya banyak wacana dan janji.
Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”