Terkadang pada satu situasi, kita orangtua menemui kesulitan saat harus mengatakan kebenaran pada anak. Inilah yang menjadi penyebab orangtua sering melontarkan ‘bohong putih’.
'Bohong putih' sering diartikan para orang tua sebagai kebohongan untuk tujuan baik anak. Dalam hal ini, untuk menyederhanakan masalah atau melindungi kepolosan anak yang belum cukup umur mengerti topik pembicaraan tertentu.
Meski banyak orang menganggap 'berbohong putih' yang dilakukan sesekali tidak apa-apa, namun dari sisi psikologi perkembangan anak, 'berbohong putih' tetaplah suatu kebohongan yang bisa berdampak negatif bagi anak.
Inilah beberapa dampak ‘berbohong putih’ pada anak:
• Anak tidak dididik soal moral baik dan buruk, dengan cara tidak mengatakan hal sebenarnya.
• Membuat anak menerima pesan yang salah dan membingungkan, yang dapat memengaruhi mereka dalam kehidupan bermasyarakat kelak.
• Menimbulkan tanda tanya dan rasa tidak nyaman pada anak.
• Membuat anak meniru cara yang dicontohkan orang tuanya jika kelak ia berada di situasi sama. Tidak mau anak jadi pembohong cilik kan?
• Membuat anak tidak belajar mengembangkan nalarnya, karena ia seolah-olah dibungkam dengan jalan pintas. Padahal, anak seharusnya memiliki kemampuan analitik untuk belajar mengapa begini mengapa begitu.
Jadi, apa yang sebaiknya Anda lakukan? Ahli perkembangan anak mengatakan bahwa yang terbaik adalah menghindari berbohong. Selalu jawab dengan jujur dan beri anak penjelasan sesuai kemampuannya menyerap informasi.
Sumber : www.parenting.co.idIkuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”