CIBfest Zone
Writing Article
JADI PELAYAN TUHAN ITU SUSAH!

JADI PELAYAN TUHAN ITU SUSAH!


Di sebuah desa kecil, di puncak bukit. Ada gereja tua berdiri menyempit. Pintu dan jendelanya ditiup angin berderit. Gedungnya sudah lapuk. Atapnya sudah buruk. Di sana hanya ada satu pendeta tua. Yang sudah melayani sejak masa ia masih muda.


Minggu pagi itu, badai mengamuk. Kilat menyambar, guntur menggelegar, petir menyeruduk. Hujan lebat membasahi dari puncak sampai lubuk, dari gunung sampai teluk. Ibadah baru usai, jemaat enggan pulang masih bersantai. Lalu percakapan ini pun dimulai:


Seorang penyambut tamu mengeluh. “Jadi penyambut tamu tidaklah mudah. Kamu harus selalu tersenyum, menyapa jemaat yang datang, menjabat tangan, dan mengantarkan mereka dengan ramah. Bagaimana kalau aku sedang tidak dalam mood yang baik hari ini? Bagaimana kalau aku sedang tidak berniat tersenyum gara-gara aku tidak sempat sarapan karena terlambat bangun pagi. Masakan aku yang direktur ini harus memasang wajah munafik dan tersenyum palsu sama orang-orang yang kasta sosial-ekonominya lebih rendah? ‘Selamat pagi! Tuhan memberkati! Selamat beribadah’ Idih, amit-amit, dah! Padahal jika di luar, aku bertemu dengan tetanggaku yang segereja, boro-boro menyapa dan menjabat tangan. Aku tentu pura-pura tidak melihat atau sebisa mungkin memutar  jalan. Pelayanan boleh, asalkan aku tetap dihormati dan disegani sesuai dengan jabatan!”


Seorang kolektan persembahan menimpali. “Jadi kolektan itu lebih makan hati. Kamu harus berkeliling-keliling gereja untuk mengumpulkan uang yang bukan untuk kamu pribadi. Berdiri menunggu jemaat yang susah payah mengorek receh sampai ke ujung dompet. Padahal rupiah-rupiah biru gobanan minta dikeluarkan di antara kartu kredit dan ATMnya yang mepet. Jumlah sebegitu mana cukup, buset! Lebih mahal uang buat bayar toilet. Tapi setiap bulan pasti Handphone-nya selalu ganti baru. Mulai dari yang segede bata sampai sekarang yang berlayar sentuh. Dasar tak tahu malu. Minggu lalu, gereja mengumumkan minta dukungan dana buat pelayanan misi di pedalaman. Harusnya kalian-kalian yang lebih kaya yang lebih banyak menyumbang. Bukan aku yang cicilan kulkas saja belum lunas. Pelayanan boleh, asal jangan bikin dompetku jadi tipis seperti kertas!”


“Lebih susah lagi jadi operator slide lagu.” Begitu tukas seorang operator slide mendengar pelayan lainnya mengeluh. “Aku harus melayani dengan siap sedia dan konsentrasi penuh. Tidak boleh ngantuk atau melamun agar lirik lagu yang dinyanyikan tidak terlambat ditampilkan. Kalau terlambat, pasti mata-mata melotot memberi isyarat. Mendelik seperti bos dan karyawan yang mau dipecat. Apalagi semalam ada pertandingan, aku ‘kan bergadang menyaksikan. Jangan sampai ketinggalan satu gerakan. Pelayanan boleh, asal jangan menggangguku dalam hobi dan kesukaan!”


“Huh! Baru segitu sudah cerewet.” Seorang pemusik membeberkan uneg-unegnya yang berderet. “Aku pemusik harus berjerih mengorbankan waktuku untuk latihan dengan pemimpin pujian yang menyebalkan. Suaranya cempreng seperti kaleng. Nadanya suka lari sendiri. Dari Do bisa lari ke Si. Tak tentu, kadang melengking, kadang ngebass. Bahkan batuk saja suaranya fals. Belum lagi dengan drummer yang parah dan berisik. Baru belajar kemarin sore sudah berlagak sok asyik. Bagaimana suara musikku bisa kedengaran? Bagaimana permainanku yang lebih merdu dari mereka bisa dinikmati waktu penyembahan? Pelayanan boleh, asal jangan dengan orang-orang yang menyebalkan!”


“Siapa yang menyebalkan? Siapa yang suaranya sumbang?” Sang pemimpin pujian protes sambil berjalan datang.” Aku sudah konser dari kafe ke kafe sejak jadi bintang. Lagipula albumku bulan depan rilis di pasaran. Pasti nanti kalian memohon-mohon minta tanda tangan. Susah memang pelayanan di gereja kampungan. Suasananya tidak seru dan bikin ngantuk. Bersusah payah mengajak jemaat bernyanyi bertepuk tapi yang ada mereka cuma berdiam duduk. Pelayanan boleh, asal aku dikagumi dan jadi pusat perhatian!”


Pendeta gemuk tua berjalan terseok melangkah satu-satu. “Di gereja ini siapa yang lebih sulit pelayanannya daripadaku? Aku yang berkhotbah berceramah sejak masih muda. Menasihati orang putus asa dan mempersatukan keluarga yang hendak pisah. Membaptis, memimpin perjamuan, menikahkan, menguburkan sampai kunjungan doa ke rumah-rumah. Hah! Siapa yang tugasnya lebih melimpah, siapa yang harusnya lebih lelah? Namun pun persembahan yang aku terima tidak seberapa. Hanya cukup untuk ongkos jalan pulang. Tidak cukup untuk buat senang-senang atau makan puas sampai kenyang. Pendeta-pendeta lain lebih makmur, kaya dan terpandang. Sedangkan aku, sayang seribu sayang, harus bertahan di gereja ini yang mirip kandang. Mobil aku tak punya, jas pun satu-satunya sudah usang. Sudah terlihat kucel dan tidak layak. Pelayanan boleh, asal persembahan kasihnya yang banyak!”


Seorang nyonya keriput ikut cari ribut. Dia bukan siapa-siapa. Bukan pelayan, bukan majelis, bukan aktivis doa. Hanya jemaat biasa yang datang pun tidak senantiasa. Hanya muncul saat Natal dan Paskah, sesekali saat gereja bikin acara. “Siapa bilang jadi pelayan itu susah? Jadi jemaat itu lebih parah!” Tahu-tahu dia sudah datang sambil marah-marah. Semua pelayan lain diam terperangah. Sang nenek kembali berbicara. “Kalau kalian jadi jemaat, kalian akan mengerti apa yang ku rasa. Saat jemaat datang ke gereja, harusnya semuanya menyambut dengan ramah. Mempersilakan duduk, seolah kami ini tuan rumah; Karpet gedung ini harus ganti yang warna-warni. Harus bagus, harus rapi; Kursi pun mulai tidak nyaman saat diduduki. Harus dibeli baru dari kulit asli Itali; Tiap ibadah harus ada penari tamborin atau paduan suara mengiringi. Anak-anak atau orang dewasa berjubah putih-putih; Lagipula AC sudah tidak dingin lagi. Harus pasang baru, merk terkini; Speaker kurang nyaring, Mic suka berdenging, WC bau pesing, Taman terlalu kering, Ada bercak di dinding, Ada noda di piring, bla bla bla...” Daftar keluhannya masih panjang, bikin pusing.


Dari luar, si Iblis terbahak. Hahaha! Anak-anak Tuhan begitu cerdik, begitu kocak. Katanya pelayanan tapi seperti hanya kedok permainan. Keangkuhan, keserakahan, keegoisan, iri hati dan perselisihan. Minta dimanja, minta diperhatikan. Bahkan mereka yang mengaku sudah Kristen tahunan. Tetap saja berlaku mengecewakan. Yang mengaku Yesus sudah lahir dalam hatinya, mana buktinya? Belum terlihat, belum berbuah. Ini anak-anak Tuhan apa anak-anak setan? Bagaimana dengan sikapmu, masihkah semangat melayani atau kerapkali menggerutu? Benarkah Yesus yang jadi fokus kalau masih saja meributkan hal-hal tak becus.

Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.
Matius 16 : 24b

 

http://orangizenk.blogspot.com/ 

 

 

View: 843

Add Comments

Name :
Email :
Comment :
Captcha :9f90b  
Add

Comments: 4

Del : 2011-03-08 13:28:56
memang demikianlah kenyataannya banyak terjadi pada para pelayan2 di Gereja..., perasaan aku sedih membacanya..., ampuni kami Tuhan.., tolong sadarkan kami agar pelayanan kami hanya tuk menyenangkan-Mu...., dalam Tuhan Yesus.., Amin.

philip josowidjojo : 2010-04-28 15:29:54
matius 5 lebih bagus

Eslo Laudin Manik : 2010-04-09 10:03:11
Bila melayani Tuhan Susah dan mengeluh, sesungguhnya orang tersebut bukan melayani Tuhan. Melayani Tuhan itu Indah karena Tuhan memberikan kekuatan, semangat bagi setiap orang yang melayani sesuai dengan kehendakNya. Janganlah pula melayani Tuhan sesuai dengan kehendak manusia, itu namanya manipulasi. Kalau demikian, tidak heran kalau banyak orang mengeluh melayani Dia.

Timotius Hermawan : 2009-09-18 14:37:43
Pelayanan adalah PENGABDIAN diri tanpa PAMRIH tapi harus FULL KASIH.