CIBfest Zone
Writing Article
Tak Akan Pernah Sama

“Gua udah enggak percaya lagi kalo Tuhan itu ada Ren..”

 

Faren masih mengingat jelas kata-kata terakhir yang diucapkan Destin sahabatnya. Masih terekam jelas bagaimana pandangan nanar Destin dan matanya yang sembab saat mengucapkan kalimat itu. Saat itu ia mencoba menguatkan dan menyadarkan Destin dengan segenap kata-kata yang dapat ia ungkapkan. Tapi hasilnya Destin tetap diam, teguh pada pendiriannya. Peristiwa ayah ibunya yang tiba-tiba dibunuh oleh para perampok membuat dia kehilangan kepercayaan bahwa Tuhan itu ada. Selama ini ia merasa percuma melayani Tuhan yang ternyata membiarkan kejadian buruk terjadi dalam hidupnya. Ia kecewa. Sangat kecewa.

Semenjak itu Destin mengundurkan diri dari pelayanan dan tidak pernah lagi hadir ibadah kaum muda ataupun ibadah minggu. Banyak yang mau mencoba mengunjunginya, tapi semuanya ditolak.. Beberapa bulan setelah kejadian itupun Destin pindah rumah bersama adiknya dan tidak ada yang pernah tahu keberadaannya.

***

“Destin?!” Faren menyapa perempuan yang tampaknya akan memasuki sebuah Café. “Faren! Duh kangen banget gua sama lo.” Destin menyambut sapaan Faren dengan ceria sambil memeluknya. Tak terlihat lagi raut muka Destin yang kecewa dan putus asa. Ia terlihat sudah menata hidupnya dengan baik. 2 tahun ternyata waktu yang cukup untuk membuat Destin kembali menjadi gadis yang ceria dan terlihat optimis. Pikir Faren. “Eh kita makan siang bareng yuk!” —

Makan siang mereka hari itu diwarnai canda tawa dan saling tukar informasi mengenai hal-hal apa saja yang sedang sibuk mereka lakukan. Terbukti Destin memang telah menata hidupnya kembali dengan baik. Ia telah mendapat pekerjaan di perusahaan asing dan kini ia tinggal di sebuah apartemen bersama dengan adiknya. Mereka masih nyaman bercakap-cakap hingga akhirnya “Lo gereja di mana Tin?” Faren bertanya tentang hal yang ia anggap biasa.”Gereja? Ngapain?” Destin tertawa menjawab pertanyaan Faren. “Lo gak inget ya Ren, kalo gua udah enggak percaya Tuhan itu ada?” Destin kembali melanjutkan kalimatnya “Dan lo tau gak, selama dua tahun ini, gua banyak ketemu sama orang-orang yang ternyata sepikiran sama gua. Gua ngerasa bebas banget bisa ngeliat pandangan yang berbeda selain pandangan dari iman Kristen yang kadang suka enggak masuk akal dan bodoh. Maaf..” kata-kata terakhirnya diucapkan dengan nada yang lebih rendah, karena ia tidak ingin terdengar menyinggung sahabat lamanya itu. Faren terdiam mendengar kata-kata Destin yang terdengar cukup tajam di telinganya. Dari dulu dia tidak pernah menjadi orang yang ahli dalam berdebat. Ia sama sekali tidak tahu apa yang harus ia kemukakan untuk jawaban yang tidak ia duga dari seorang Destin yang kini hidupnya terlihat sangat baik.

“Lagipula..” Destin tiba-tiba melanjutkan perkataannya. “Kalo Tuhan itu ada, Dia enggak akan membiarkan kedua orangtua gua meninggal secara sadis kayak gitu… Kalo Dia bener-bener ada bukannya Dia Allah yang penuh kasih?”Destin kemudian mengaduk minumannya dan tidak melihat ke arah sahabatnya itu. Faren kini tahu bahwa waktu dua tahun ternyata tidak sanggup menghapus kekecewaan sahabatnya itu terhadap Tuhan. “Bukan..  Bukan seperti itu.. ” Faren mencoba menyanggah pernyataan Destin. “Kalo Tuhan itu ada Dia enggak akan membiarkan kita mengalami kematian ke-2 karena dosa.Dan nyatanya Dia emang turun ke dunia dan nebus dosa kita supaya kita bisa dapet hidup yang kekal.. Itu kasih-Nya”

 

Yeah whatever… ” Destin menanggapinya acuh..

“Emangnya lo enggak kangen?”

Destin setengah terbahak mendengar pertanyaan Faren “Kangen? Kangen sama apaan? Sama rutinitas pelayananan yang buang-buang waktu dan gak digaji itu? sama kegiatan ke-Kristenan yang kurang kerjaan?”

Faren terdiam sesaat mendengar tanggapan Destin yang masih saja sinis.

“Bukan..”

“Sama Tuhan Yesus.” Lanjut Faren

Kini giliran Destin yang terdiam. Tiba-tiba ia tidak lagi memiliki hasrat untuk menjawab pertanyaan Faren dengan sinis. ia hanya mampu terdiam. Tidak tahu apa yang harus ia katakan. Akhirnya perbincangan makan siang mereka kembali dilanjutkan tanpa satupun menyinggung kembali masalah kepercayaan masing-masing. Faren merasa sia-sia untuk meyakinkan kembali sahabat lamanya itu. Dan Destin pun malas jika orang lain mengusik apa yang ia percayai saat ini.

***

Di apartemennya,

Entah mengapa kata-kata Faren tadi siang terus mengganggu pikirannya..

Lo gak kangen?

Sama Tuhan Yesus..

Kangen? Lucu pikirnya. Ia mencoba tertawa ketika pikirannya menganggap pertanyaan itu lucu. Namun yang ada ia malah tiba-tiba mengeluarkan air mata. Punggungnya bersandar pada pintu kamarnya ketika ia mulai meneteskan air mata. Ia mencoba sekuat hati menahan emosi yang serasa akan tumpah.

Tapi itu sia-sia.. Air matanya tidak dapat lagi dibendung. Saat ini ia tidak dapat lagi membohongi dirinya. Pertanyaan sederhana itu begitu mengena dalam hatinya.

Ia merindukan-Nya.

Sangat merindukan-Nya.

Selama 2 tahun berjalan tanpa-Nya ia merasa ada bagian yang hilang dalam hatinya. Semuanya tidak sama seperti ketika ia masih memiliki waktu pribadi untuk memuji dan menyembah Nama-Nya. Ia sangat merindukan saat-saat itu. Merindukan hadirat-Nya kembali.. Rasa rindu itu begitu menyentak hingga ke dalam dasar jiwanya.. Semua ingatannya berputar kembali ke saat di mana ia merasa dikecewakan. Saat di mana ia berusaha sekuat tenaga membereskan luka hatinya sendiri. Ya, sendiri.. Saat ia memutuskan tidak akan pernah lagi percaya bahwa Tuhan itu ada. Dulu luka itu terasa jauh lebih baik jika ia menutupnya dengan penyangkalan itu. Tuhan itu tidak ada. Tapi kini mengapa ia merindukan-Nya. Mengapa jiwanya merindukan sesuatu yang tidak ada? Logikanya tidak dapat menerima semua ini.

Namun tangisnya, kerinduannya, kehangatan yang menyentuh hatinya, seketika itu juga meruntuhkan pertahanan logikanya. Ia lelah, lelah dalam penyangkalannya.

Dalam tangisnya, Destin hanya sanggup berucap “Aku merindukan-Mu Tuhan.. Ampuni aku… ampuni aku.. Aku merindukan-Mu..”

Karena sesungguhnya jiwanya tahu, semua tak akan pernah sama tanpa kehadiran-Nya.

“Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.” – Mazmur 42:2

“Aku akan pergi pulang ke tempat-Ku, sampai mereka mengaku bersalah dan mencari wajah-Ku. Dalam kesesakannya mereka akan merindukan Aku.” – Hosea 5:15

Sesering apa kita kecewa dengan peristiwa yang terjadi dalam hidup kita? Seringkali kita kecewa karena kenyataan yang ada di hadapan kita dan kekecewaan itu membuat kita tidak melihat Kasih-Nya, Janji-Nya,  dan Rancangan-Nya, jangan biarkan kekecewaan menguasai kehidupan kita dan menghancurkan segalanya. Dia setia dan tak ada satu perkara pun yang Ia biarkan terjadi hanya karena Ia ingin melihat kita menderita. Semua perkara Ia rancangkan untuk hari depan yang indah.(Yer 29:11)


 

View: 646

Add Comments

Name :
Email :
Comment :
Captcha :b3a01  
Add

Comments: 1

Basil : 2011-03-02 15:24:44
I hope you will keep updating your content constantly as you have one dedicated reader here.